Mesin Pencari

Menjadi Manusia Bijaksana

Entah seperti apa manusia bijaksana yang sebenarnya. Definisi dari bijaksana saya tidak tahu. Tetapi menurut keyakinan yang saya anut, tentunya manusia yang paling bijaksana adalah Nabi Muhammad SAW. Lalu bagaimana agar menjadi manusia yang bijaksana? Tidak ada jalan lain kecuali mengikuti jejak junjungan kita serta berpegangan pada Al Quran dan Hadist. Tapi saya tidak akan berbicara tentang hal yang mungkin terlalu berat buat saya sendiri.

Ada seorang sahabat yang mengirimkan email dan menceritakan bahwa dia memiliki niat yang tulus untuk membantu saudara-saudaranya yang mungkin 'kurang beruntung' sehingga mereka tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Sedangkan sahabat saya sendiri bukan orang yang berlebih. Hidupnya pas-pasan, tetapi rasa syukurnya menjadikannya seorang yang kaya sehingga dia mampu menyekolahkan beberapa anak.

Dalam perjalanan menyekolahkan beberapa anak, banyak hal yang dia alami. Latar belakang anak-anak yang dia asuh yang beraneka ragam menyebabkan karakter anak-anak asuh yang juga beranekaragam. Ada yang pemarah, ada yang terlalu menuntut, ada yang tidak bisa melihat situasi setidaknya itu menurut pandangan saya. Tetapi menurut sahabat saya, mereka semua baik, mereka semua mungkin saja bisa membuat kesalahan, tetapi dalam sekejap, dia dapat melupakannya. Ada beberapa anak yang akhirnya juga tidak tahan, keluar dan membuat suara-suara miring di belakang, tetapi hal itupun tidak ia hiraukan. Menurutnya, yang penting anak itu sekarang sudah dapat kuliah, "Saya sudah menunjukkan jalan, dia melihatnya, saya sudah cukup bahagia. Saya tidak mengharapkan apa-apa dari mereka, berharap 'pahala' dari mereka adalah terlalu kecil, yang saya harapkan adalah ridhoNya"

Menurut sahabat saya itu, kebaikan tidak akan mungkin dibalas dengan keburukan. Tidak ada air susu yang dibalas dengan air tuba. Menanam kebaikan pasti akan memanen kebaikan, meskipun kebaikan itu tidak datang dari seseorang yang dibantu secara langsung, tetapi pasti kebaikan itu akan kembali dengan jumlah yang sudah dikalikan berlipat oleh Allah SWT.

Ah, betapa bijaksana sahabat saya tersebut, padahal saya tahu, istrinya tidak lagi mengenakan kalung mas kawin yang dia beli bersamaku waktu itu. Walaupun dia mengelak ketika saya tanyakan, tetapi secara tersirat saya dapat menangkap bahwa mas kawin itu sudah ia jual ketika anak asuhnya harus dapat melunasi bayarannya agar dapat mengikuti ujian. Karena sebelumnya dia mengatakan ingin meminjam uang untuk keperluan anak-anak asuhnya, dan pada saat yang sama saya sedang tidak memiliki uang. Si anak asuh sendiri pernah mengeluhkan tunggakan bayarannya.

Yang bikin saya semakin merinding, saya mendapat informasi dari teman kuliah si anak asuh bahwa ternyata si anak asuh tidak menggunakan uang itu untuk membayar tunggakan bulanannya, dia malah pergi entah kemana. Yang membuat saya semakin merinding lagi, sahabat saya itu menanggapinya dengan penuh kesabaran. Mungkin itulah salah satu manusia bijak yang dapat saya lihat secara langsung. Saya harus belajar dari sahabat saya ini. Untuk share di facebook, klik icon facebok tombol di bawah.
Share

Artikel Terkait



0 comments:

Post a Comment